STOP!



Ketika kita memiliki suatu akun di jejaring social, katakanlah facebook atau twiter, tujuan pertamanya adalah untuk menjalin pertemanan. Apakah itu teman lama, maupun teman baru .  Senang menemukan teman-teman lama dengan muka-muka baru mereka , yaa tentunya karena sudah bertambah usia dan kehidupan yang berbeda. Jujur bagi diriku pribadi bertemu di jejaring social sangat menyenangkan sekali. Ada kegembiraan tersendiri bisa ngobrol sepuasnya, dengan jarak yang terbentang terasa didepan mata. Rasanya rindu / kangen dan merasa terikat dengan pertemanan ini.
Dalam perjalanan waktu teman-teman ku bertambah, mulai dari organisasi ini, club itu yang berbasis ibu-ibu. Belum lagi alumni SD,SMP,SMA, Universitas dan lembaga-lembaga lain. Setiap buka akun, akan bermunculan chatbox, teman-teman ku menyapa. Wah senang sekali, bisa tukar menukar informasi, bercanda, bahkan ada yang curhat. Di layanan pesan yang lain, juga tak kalah seru karena bisa ngobrol ramai-ramai, dengan topic yang seru-seru yakni tukaran resep masakan, tips mengasuh anak dan cerita-cerita nostalgia.
Lama-lama teman ku mulai berubah yang tadinya ibu-ibu, teman sekelas, hingga yang sering chat tinggal (kebanyakan PRIA) ? tanpa kusadari  obrolan yang tadinya standar basa-basi lama-lama semakin personal. Bahkan mulai berani memberi sapaan ,..”hai cantik”….”say”….Tapi aku menganggapnya lucu-lucuan saja, maka akupun membalas dengan…”hai ganteng”….sedang kan yang menyapa “say”…aku tinggalkan
Tapi aku jadi terjebak dan mulai merasa terganggu. Orang mengira aku sangat ramah, sehingga mereka mulai nakal.  Bagaimana mungkin aku beramah tamah dengan suami orang / teman ku) sementara dengan istrinya aku tidak pernah chat seakrab itu. Lupa tata karma dan yang membuat aku terkesiap adalah……….Aku lupa dengan ajaran agama ku. Bahwa ada tabir dan batasan-batasan yang harus dibuat jika berkomunikasi dengan pria. Tabir itu bukan hanya hijab. Tetapi perilaku yang nyata. Walaupun tidak berjabat tangan ataupun memandang mata lawan jenis,….hal ini tetap dilarang dalam Islam.
Sok fanatic? Tidak, aku realistis jika itu memang menyerempet mendekati fitnah , maka sebaiknya dihentikan.
Maka dari itu akun disosial media , dengan berat hati NON AKTIF karena aku mulai berlatih untuk tidak menderita addictive socmed.

Selamat beraktifitas......


1 komentar: