Sesi Spritual: Masalah buat lo

Hidup dilingkungan berbagai suku dan agama,memang harus ektra hati-hati dengan persinggungan budaya. Teledor sedikit konflik. Salah omong konflik.
Pengalamanku dengan teman yang berbeda agama, biasanya baik-baik saja. Karena aku berprinsip Agama ku bagi ku Agamu bagi mu. Kami tidak pernah membahas ajaran agama masing-masing jika akan menimbulkan persinggungan. Tapi kami mendiskusikan hal-hal yang hampir sama dengan ajaran agama masing-masing. Misalnya berdoa sebelum makan. Bagi teman ku yang beragama Kristen, doanya agak panjang dan khusuk. Bagi kita yang beragama Islam doanya cukup dengan membaca Bismillah ,...bisa langsung memulai makan. Karena bisa saja disetiap suapan itu kita baca Bismillah lagi dalam hati. Intinya sama, yaitu bersyukur atas nikmat rizky  (makan) yang kami terima.
Tetapi untuk pilihan tempat makan, aku memang sangat berhati-hati.Biasanya teman non muslim ku itu juga paham bahwa jenis makanan dan tempat makan mutlak bagi penganut Islam,  untuk memastikan rumah makan tersebut adalah HALAL.
 
Di Kota Besar (Ibukota Profinsi), biasanya dihuni oleh bermacam etnis dan agama. Begitu juga dengan rumah makan , ada restoran China, Rumah Makan BP Khas Karo (Batak), Makanan Italia, Fast Food Amerika,  Cake and Bakery, Masakan Jawa, Ampera Minang dll. Untuk Restoran China dan Babi Panggang (BP) Karo, jelas-jelas menunjukkan ketidak Halal an. Biasanya pemilik restoran akan mengingatkan kita kalau salah masuk. Tapi jika Restoran  terkenal waralaba, biasanya untuk wilayah  mayoritas Muslim  maka restoran tersebut sudah mendapatkan sertifikasi Halal. Begitu  uga dengan Bakery-bakery, biasanya pada pintu masuk sudah disodori label Halal dari MUI.
 
Berbeda halnya ketika makan di Rumah Makan Jawa. Secara umum, masakannya mudah diterima lidah. Penampilan pemilik warung tidak bisa diduga. Usut punya usut, pemilik rumah makan adalah non muslim. Nah Lo!. Kalau memilih menu berupa ayam, apakah ayam ini disembelih secara Islam, karena dipasar pun ada penjual ayam orang Batak (non Muslim) sudah pastilah tata cara penyembelihan tidak secara Islami. Seandainya memilih menu seafood, apakah panci tersebut pernah digunkana untuk menggulai babi? kalau pernah,..bukankah mesti dicuci tanah (sama') dulu 7 x karena babi tergolong pada najis berat. Jika ragu maka sebaiknya hindarilah masuk ke rumah makan tersebut.
Kejadian lain pernah ku alami. Dalam nasi kotak tersebut ada lauk kulit ayam digoreng tepung dan disiram saus tomat asam manis. Selain itu ada irisan kentang teri diberi kecap. Sambal terasi yang manis. Entah mengapa, perpaduan lauk itu tidak bisa kuterima. Pertama aku tidak suka kulit ayam. Kedua rasa masakan itu tidak padu karena dominan manis. Setelah memeriksa lauknya yang hanya berupa kulit ayam tepung, aku menghentikan makan. Ada rasa was-was dan prasangka sewatu melihat kulit ayam tersebut. Aku lihat label restorannya, tempat yang tidak biasa kami kunjungi. Tak sengaja aku menceritakan ke teman, yang kebetulan tinggal di wilayah yang sama dengan Retauran tersebut. Jadilah aku terperanjat karena Restoran tersebut milik keturunan orang China yang berbahasa Indonesia saja masih patah-patah. Karuan penemuan ini aku ketengahkan dalam rapat dinas, karena yang mengkonsumsi nasi kotak tersebut siswa dan guru2 yang mayoritas Islam.
Tapi apa yang terjadi sungguh mencengangkan. Aku diserbu ibu-ibu yang beragama Islam yang sebelumnya merekalah yang memesan nasi kotak tersebut dan mengatakan restoran tersebut "bersih" karena mereka telah survey HES sebelum memesannya. Bersih secara kesehatan belum tentu HALAL. Bersih dari endusan si gukguk, bersih dari lalat, atau bersih dari zat kimia. Dikatakan bersih karena hasil pantauan mereka tukang masak restoran tsb adalah Muslim. Tapi apakah ibu-ibu yang baik hati tadi paham dengan kaidah agamanya sendiri tentang ke Halal an suatu makanan dan apa dampaknya jika kita mengkonsumsi makanan yang tidak halal. 
 
Dalam hal ini koordinator konsumsinya adalah non muslim, tapi tim survey dan pemesannya adalah Muslim. Disinilah letak persinggungannya. Kenapa timnya yang muslim itu harus nyerempet-nyerempet bahaya dengan memesan makanan ditempat yang diragukan ke Halal annya. Kenapa tidak memesan makanan di tempat langganan saja atau paling aman adalah RM Padang atau RM Melayu. Akhirnya yang terjadi adalah saya dihakimi karena saya telah "menuduh" koordinator konsumsi memberikan makanan yang tidak Halal bagi umat muslim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar