Akhirnya Tumpah

Setelah berkutat selama 3 bulan ini akhirnya (hanya) sebuah proposal ilmiah kelar. 10 kali pertemuan bimbingan maka terteralah 2 tandatangan "keramat". Dag-dig-dug aku memasuki ruangan ketua prodi untuk mendaftar seminar tanggal 22 seminggu lagi. Rencana penyelesaian tugas akhir ini tertunda 6 bulan gara-gara belum sepakatnya komisi pembimbing dari prodi. Praktis kami hanya "menganggur".
Tak kuduga...2 kata Ruth Sayanaya menghiburku dari kekecewaan luar biasa dan malu yang amat sangat olek ketua prodi yang sebenarnya tugasnya adalah cukup mengetahui lalu ACC untuk seminar. Tetapi sang kaprodi bersikap bagaikan raja disembah menolak judul proposal ku dan minta merombak total dan mengarahkan ke judul pilihan beliau. Lalu apa arti profesor pembimbing ku yg selama 3 bulan ini dengan sabar membaca tulisanku dan mengkritiknya bila perlu.
Apa ada di universitas lain yg sikap ka prodinya begini??? melecehkan rekan sejawatnya sendiri dengan merubah hasil kerjasama selama ini.

Sebagai mahsiswa aku kalah adu argumentasi karena aku sudah jatuh mental karena judul karya ku diolok-olok oleh dia dan stafnya (yg nota bene) adalah dosen juga. Hampir gila aku keluar ruangan tersebut karena kupikir aku akan marah dengan cara membanting ipad merk Apple terbarunya, alhasil aku ketawa-ketawa senewen.
Dalam hati ada yg tidak beres denga adrenalinku karena biasanya (pasti) aku akan berurai air mata.
Semalaman aku memikirkan judul baru dan latara belakang apa lagi yg harus dibuat berikut kerangka berfikir,metoda penelitian dan lain-lain. Aku tidak mau bergadang untuk ngebut menyelesaikan dalam 1 malam karena itu akan mercuni diriku sendiri saat toksin ditubuh ku dikeluarkan hati pada tengah malam.,

Paginya aku seperti mimpi buruk dan aku jadi teringat mimpiku seminggu sebelumnya. Pada suatu hari aku datang kepertemuan lebih dahulu dari kawan-kawan. Karena suatu keperluan, aku permisi dan minta aku jangan ditinggal kalau mereka pergi. Setelah aku kembali, aku sudah ditinggalkan mereka. Ada 2 wajah yang sering terlihat dalam mimpiku. Yang 1 yang menyampaikan berita bahwa kawan-kawan telah berangkat bersama prodi karena prodi tidak mau menunggu. Lalu wajah ketuaprodi paling lama muncul diakhir mimpi tapi kata-katanya tidak jelas ekspresinya menunjukkan bahwa mereka bergegas harus pergi.

Sorenya aku paksakan diri keperpustakaan mencari buku-buku baru. Disana aku mendapat pesan pembimbingku minta ditemui karena beliau sudah mendengar berita ku.(mungkin hampir semua orang diprodi telah mengetahui "kasus" ini. Begitu masuk ruangan beliau dadaku terasa sesak. Susah payah aku mengeluarkan suara, memberi tahu bahwa aku tidak siap untuk seminar karena bahan ku terlalu luas dan bla..bla...bla aku mulai ngawur. Beliau memandangku dengan penuh simpati berbeda dengan penampilan beliau disaat bimbingan. Dan dengan susah payah menahannya akhirnya aku menangis!!! astaga....seorang emak-emak menangis dihadapan profesor muda ini. Aku mengingat ingat lelucon yg paling lucu tapi lelucon itu menjadi cerita mengharukan juga. Gagal total....
Endingnya aku disemangati bahwa dunia belum kiamat dengan peristiwa ini. Beliau bercerita sewaktu di USA mengambil MBA, disertasi beliau di ejek, ini tulisan kok seperti mahasiswa D3. Disertasi beliau tertuda sampai 1 tahun kemudian. Tapi hikmahnya setelah beliau membaca ulang lagi tulisan yang diejek itu memang benar-benar buruk.
Mudahan pencerahan tersebut bisa menyemangati ku lagi untuk mengambil hikmahnya dan berfikir positif, mungkin aku lebih baik jika membuat "tulisan ilmiah" dengan metode kualitatif yang tulisannya sedikit "nyeni" ketimbang hal lain.

Aku juga mencoba untuk tidak berprasangka buruk kepada ketua prodi ku karena beliau adalah seorang guru yang tahu (peka) dimana kemampuan muridnya. Walaahualam

Raungan Tengah Malam

Paling sebal kalau sudah mulai musim kawin kucing. Dimana-mana bau asam dan tengik. Pagi ini handuk ku yang kena sasaran. Sebelumnya sepatu Fira. Tiap pagi kami terpaksa mengendusi bagian mana yang kena semprot.
Dimana-mana para kucing mulai mojok berpandang-pandangan. Dikolong mobil, diteras, diatap. Ada kucing jantan putih, kuning, abu-abu dan hitam. Yang betina ada yang kuning, belang dan abu-abu. Diantara kucing-kucing tersebut ada yang ibunya, anaknya dan bapaknya. Dasar hewan kalau sudah musimnya gak ada aturan kekeluargaan lagi. Semua OK.
Ada seekor kucing yang tergolong masih remaja dikawin oleh kucing garong buruk rupa. Tampang kucing jantan ini benar-benar bengal. Penuh codet dimukanya yang lebar dan agak persegi. Sementara kucing betina ini manis dan imut. Entah apa yang terjadi ,setelah jurus gombal yang dikeluarkan si kucing garongn, kucing manis ini menggelepar seperti kesakitan. Karuan si garong aku timpuk pakai sapu. Tidak berapa lama mereka jalan-jalan berdua dan kejar-kejaran bak felem India. Akhirnya kisah romantispun berakhir setelah sikucing manis bunting. Rasain tuh tanpa pejantan siaga. Si Garong tak pernah datang lagi.
Kucing angkat kami (yang pernah diceritakan diblog lalu) beranak yang ketiga kali tapi semua anaknya mati diusia ”balita”. Kasusnya berbeda ada tergiles mobil tetangga, ada yang “geger otak” jatuh dari loteng, dan ada yang mati merana tidak disusui induknya. Minggu lalu Fikri baru menguburkan anaknya yang terakhir hamper membusuk di gudang. Untung cepat ketahuan. Belum habis masa berkabung , induknya sudah pacaran lagi. Gak pernah berasa tua, kali ini jantannya agak berjih. Mungkin kucing angkat kami sudah agak pintar memilih jantan supaya perbaikan keturunan. Ributnya minta ampun. Waktu Faiz bertanya kenapa kucing-kucing diloteng dapur terdengar riuh, aku jawab mereka sedang bernyanyi merayakan perkawinan induk kucing. Ada suara 1, 2 dan 3,…jadi trio macan….oh bukan,…trio kucing dong…..yang sedang menyayikan …” kami ini si kucing garong,…..sedang mengintai kucing kalian,….sekalian mencuri lauk dan berburu tikus”….tralala….trilili….
Tapi tiba-tiba nada nya senyap, lalu sayup-sayup terdengar seperti bayi menangis. Suasana mencekam. Faiz terbangun dan ketakutan. Fikri pun terlonjak . Jujur aku sangat takut.Suara apa itu. Apa itu suara kuntilanak?.....dengan jantung berdebar aku terus mempertajam pendengaran …..suara apa itu. Lamat-lamat seperti kata ,….”mau………mau…………………meong…………….meong……meoooooooong”..Owalaaaahhhh itu kelanjutan koor si kucing garong. Beberapa menit kemudian terjadi kegaduhan,…kejar-kejaran dimulai , lalu sahut-sahutan berkelahi. Nada melengking, menggeram, mendesis-desis…..Berdua Fikri kami mulai naik pitam ikutan bersuara mengusir kucing-kucing yang tengah pesta.xxx..Tiga ekor kucing berhamburan panic, lari kekolong meja makan. Pletak! Yang satu kena sambar gagang sapu Fikri. Satu lagi kena sapu lidi ku. Terpojok di depan pintu yang tertutup, seember air sepertinya sanggup menyurutkan birahi ketiga hewan tersebut. Byuuuuurrrrr!!!!............................Selamat mengepel besok pagi…

Ketika Linda Ketinggalan Pesawat

Setiap tahun kami selalu melaksanakan pemberian hadiah Masa bakti yaitu penghargaan kepada guru dan karyawan yang telah bekerja dengan kelipatan lima tahun. Bertepatan dengan hari guru 25 November. Perlu digaris bawahi ini hanya kebetulan bersamaan tapi tidak secara khusus merayakan hari guru.Tetapi MASA BAKTI.
Sesampai dirumah aku dapat telpon dari Devi teman SMP ku. Dengan terburu-buru dia mengatakan kalau Linda sekarang ada di Pekanbaru dan berencana mengunjunginya di Hotel Aryaduta. Begitu diajak aku langsung setuju.
BAru selesai shalat Ashar, klakson berbunyi. Wah kilat, aku yang masih berdaster hanya bisa melongokkan kepala dipintu supaya Devi masuk dulu.

Aku dandan kilat dan praktis saja. Sambar tas dan uffff...sepatu entah dimana. Kotak-kotak sepatu bergelimpangan tanpa isinya.Dan ini pasti kerjaan Faiz. Aku sudah gak sempat marah lagi karena kelihatannya Devi juga terburu-buru sehingga gak mau nunggu didalam rumah, tapi tetap di mobil. Merasa tidak enak ditunggu terlalu lama aku terpakasa pakai selop hak yang ditemukan Fira di rak buku...Masya Allah ,...FAIIIIIIZ

Waktu aku tanya kenapa tidak mau keluar mobil, ternyata kunci mobilnya ketinggalan di rumah,....Loh Kok????? Kami harus kerumahnya menjeput kunci mobil

Sesampai di Ardut, Linda teman SMP kami sudah rapi siap untuk berangkat. Masih seperti dulu, mungil,lincah dan suka bercanda. Datang ke Pekanbaru cuma setengah hari, tapi malah ketinggalan pesawat yang berangkat 13 20. Sementara Pak Wako masih ingin berbincang-bincang, hihi...lucu. Linda yang tamu PemKo harus menyesuaikan waktu.
Dengan ketinggalan pesawat kami bisa bertemu. Walau hanya 1 jam saja. Ngobrol di mobil Devi sambil keliling kota. Aku tawarin makan-makan dulu ditolak, durian ditolak juga,...soalnya Linda masih trauma takut telat lagi. Begitu masuk di jalanan macet waktu sudah menunjukkan pukul 17:15. Garuda tekahir berangkat jam 18:20,..masih lama.
Cerita nostalgia lebih seru ketimbang makan, yups.....hebohnya kami bertiga,...mengalahkan semuanya.

Obrolan terhenti ketika kami sudah sampai di depan pintu keberangkatan. Peluk hangat ku untuk mu,...selamat jalan teman,.....semoga kita ketemu lagi

Bersih-bersih

Puffff,..rumah ku berdebu.Kasian lama ditinggal dan tidak di dandani lagi.
Kok jadi malas gini ya,..padahal dulu tiap bulan ganti tamplate (boleh minjam)ke tetangga. Apalagi sejak si Digi sering ngadat jadi males upload.
Apalagi nulis, rasanya agak terkontaminasi gaya penulisan ilmiah,..uh garing.
Baru pembukaan kok seperti latar belakang masalah,...lalu berubah ke kajian pustaka...untung belom ke hipotesa....ck...ck...jadi sok serius
Tapi jangan nyalah-nyalahin kambing ya,...dasar emang malassss.

Kampus sekarang sepi, ga ada kawan. Perpustakaan juga sepi. Bukunya-bukunya masih keluaran "abad" lalu. Kalaupun ada yg baru paling organization behavior,..uhh sampai eneg. Serasa melihat sarapan pagi roti selai kacang yang dimakan seminggu berturut-turut.
Awal bulan lalu nyaliku sempat ciut mendengar kabar, teman-teman seangkatan sudah selesai ke Bab 3. Sedang aku masih Bab I dan masih dicoretin. Begitu maju ke bab 2, pbb 2 menganjurkan ganti variabel. Sedih karena merasa aku paling bodoh. Tapi minggu kemarin aku hampir semalaman terpingkal-pingkal melihat hasil kerja mereka yang sudah 70 halaman salah semua. Bukan menertawakan kesalahan temanku, tapi lebih ke menghibur diriku yang ternyata masih lebih baik.

Sekarang aku punya kerjaan rutin mencecerkan buku dimana-mana. Selamat 2 buku berhasil dicoret Faiz. Keren kan aku baca buku 4-5 buah sehari. Baru pada lembar yang diinginkan, aku sudah menghayal berdiri di depan dosen penguji dengan PD lalu menjawab pertanyaan mereka,....lalu busana yang akan kupakai nuansa melayu atau stelan blazer ala profesional, sepatu 7cm atau yang 3 cm saja karena akan berdiri 1 jam. Kira-kira perlu tas baru untuk menyesuaikannya? Hermes atau LV, yang KW Super atau buatan Tajur saja,...................eh jadi senyum sendiri, untung gak ada yang liat...Atau aku sudah mulai senewen ya,....gara-gara *****

"Iya" kata Faiz....oh 'ngigau,...

Bersih-bersih lagi ahh,...mau ganti template yang seggerrr. Tapi siapa yang mau bantuin mindahin buku 1 "kuintal" kelemari buku di pojok yang jendelanya belom ditutup gorden,....mana penghuni rumah sudah terlelap semua.Faiz si penumpang gelap di kamar ini sudah meringkuk seperi kucing. dan Ohhhhh.....buku menyebalkan serta *****memuakkan enyahlah kau cepat dari sisiku

Dari postingan Pak Munif Chatib

GURU YANG MENGAJAR DENGAN HATI
Munif Chatib

Sebut saja bu Riri, lulusan S1 PAUD, seorang guru kelompok bermain dan TK di sebuah kota kecil. Sekolahnya kecil, kelasnya bekas garasi mobil dan baru saja punya taman bermain yang sebenarnya berfungsi ganda. Jika pagi untuk taman bermain dan jika siang sampai malam untuk parkir kendaraan. Walhasil kalau di lihat dari fasilitas, kita semua menarik nafas panjang.

Belum lagi sekolah itu dengan beraninya menerapkan ‘multiple intelligence’ yaitu memandang semua anak cerdas dan harus punya kesempatan bersekolah. Konsep ini sangat terekam sangat kuat di otak bu Riri. Menurut dia sebenarnya tidak ada anak bodoh, tidak ada anak nakal, apalagi seusia TK. Namun bagaimana kita memberi pelayanan kepada anak-anak tersebut. Itulah kuncinya. Pada saat konsep itu dikumandangkan maka penerimaan siswa baru pada tahun ajaran baru banyak dimasuki oleh anak-anak ‘spesial’.

9435Namun ada yang luar biasa dari Bu Riri ini. Meskipun belum memahami konsep ‘sekolah inklusi’ bu Riri menerima dan melayani anak-anak spesial ini dengan hati dan keikhlasan yang luar biasa. Pangil saja si Budi, siswanya yang spesial. Tidak bisa diam dan selalu menggoda bahkan memukul teman-temannya. Apa yang dilakukan bu Rini? Mengumpulkan semua siswanya dan memberi penjelasan sederhana.

“Anak-anak, Budi ini tidak nakal lho, dia anak yang baik dan harus menjadi sahabat semua. Dia memukul itu disebabkan suasana yang tidak nyaman. Mungkin tadi ada yang membentak, mungkin tadi yang menarik tangannya, dan lain-lain. Anak-anak iklhas ya membantu Budi …”

Tak henti-hentinya penjelasan itu diberikan kepada seisi kelas. Satu minggu kemudian muncul tantangan baru lagi. Ada tiga anak spesial yang mendaftar lagi. Kepala sekolahnya mengatakan bahwa batasan anak spesial hanya 1 anak di kelas, tidak boleh lebih. Sebab sekolah ini masih tidak memiliki ‘shadow teacher’ maupun ‘terapis’. Namun orangtuanya terus mendesak, sebab tidak ada lagi sekolah di daerah itu yang mau menerima. Ketika hampir terjadi ‘dead lock’, bu Riri mengatakan bahwa dia sanggup untuk mengatasi tiga anak spesial itu.

“Sudah ibu kepala sekolah terima saja mereka. Buat saya, asal mereka bisa kumpul sama teman-temannya, itu sudah bagus. Insyaallah saya akan menjaganya sekuat tenaga saya.”
Kepala sekolahnya hanya bisa mengelus dada tanda ucapan terima kasih kepada bu Riri.

Selanjutnya esok harinya kelas tersebut diramaikan lagi dengan datangnya tiga anak spesial, jadi total ada empat anak spesial. Satu kelas dengan 15 anak, dengan 4 anak spesial, dengan 1 guru. Apa mungkin itu bisa berjalan? Dengan rasa penasaran saya melakukan interview dengan bu Riri.

Saya : Maaf bu Riri … apa ibu paham tentang konsep sekolah inklusi?
Bu Riri : Belum tuh pak …

Saya : (dengan serius saya menjelaskan konsep sekolah inklusi)
Bu Riri : Oh … itu toh pak. Di sekolah ini juga begitu. (Sambil mengenalkan nama-nama anak yang spesial).

Saya : Tapi ibu … harus ada batasan jumlah anak spesial itu pada setiap kelasnya. Apa ibu tidak capek mengajar dengan banyak anak spesial.
Bu Riri : Kalau dibilang capek yang dari dulu capek pak. Saya hanya kasihan melihat anak spesial itu tidak bisa sekolah. Kalau sudah kumpul begini, capek saya jadi hilang. Apalagi melihat mereka tertawa riang sambil bermain. Duh seneng gitu rasanya …

Saya : Tapi ibu … sekolah semacam ini itu mestinya ada shadow teacher, ada terapisnya. Saya malah khawatir anak-anak spesial tersebut jadi liar dan menciderai anak didik lainnya?
Bu Riri : Oh .. gitu toh pak? Tapi saya enjoy itu pak …

Saya : Lalu bagaimana caranya ibu mengatur kelas ini?
Bu Riri : Ya biasa saja pak … anak-anak spesial itu hanya saya suruh melihat-lihat, jika mulai ‘mengamuk’ saya peluk. Terkadang saya harus memeluk dua orang sekaligus. Terkadang saya dibantu oleh siswa-siswa yang lain. Tapi alhamdulillah ujung-ujungnya mereka tenang.

Saya : Apa ada yang celaka sebab anak-anak spesial mengalami ‘tantrum’?
Bu Riri : Ya.. biasa pak. Saya sering digigit, dijambak jilbab saya atau di pukul. Saya Cuma bilang jangan sampai memukul teman-temannya, tapi pukul dan gigit saya saja, nanti akan tenang.

Saya : Apa ibu tidak kesakitan?
Bu Riti : Sakit sih pak..tapi sebentar sakitnya hilang tuh. Kasihan pak mereka kan tidak sengaja melakukan itu. Pokoknya saya mengajar dengan hati.

Saya : Maaf bu Riri… meskipun bu Riri mengajar dengan hati, tapi metode yang bu Riri lakukan itu tidak sesuai dengan teori-teori perkembangan psikologi anak. Ibu harus tahu itu …
Bu Riri : (sambil tersenyum) maaf pak … mungkin saya menemukan teori psikologi baru kali ya pak, yaitu ‘mengajar dengan hati’

Saya : (mengambil nafas panjang, mengeleng-geleng kepala, dan berdoa … Ya Allah seandainya semua guru seperi bu Riri, pasti bangsa ini maju)


dari Ewi:


Seandainya disekolah Faiz ada guru yang seperti ini, saya tidak akan dipanggil oleh kepala sekolah dan diminta mencari terapist atau penadamping untuk menangani agresifitasnya Faiz.

Cuma 2 Hari

4 Bulan rasanya lama sekali oma tidak dating ke Pekanbaru. Anak-anak sudah rindu sekali. Apalagi dengan inyik lebih lama lagi karena saat ini inyik harus merawat ibunya (nenek buyut f3) di kampong.
Kedatangan oma sudah ditunggu Faiz sejak pagi. Hampir saja Faiz membatalkan sekolahnya hari itu.
Seperti biasa, kedatangan oma selalu diikuti sekardus gede oleh-oleh. Aneka kerupuk, buah-buahan favorit f3 salak dan sawo. Sayur mayor dan pisang. Tentu saja pisang dengan ukuran paling besar. Kali ini yang agak berbeda Oma membawa pisang batu dari kebun rumah nenek yang di Lubuk Basung. Rasanya sudah sangat lama tidak melihat pisang kepok/pisang batu yang gemuk-gemuk dan manis. Konon pisang batu dengan bibit asli seperti ini sudah sulit didapat di Sumatera Barat.
Dari 3 sisir pisang yang dibawa Oma, 1 direbus buat sarapan pagi, wah, jadi orang Brazil deh pagi itu. Pisang yang sungguh lezat dan kenyangnya. cukup lama.
Siangnya 1,5 sisir di kolak lalu dibagi-bagi ke tetangga dan bwt yang masak. Sayangnya si etek gagal masak ketan. Masak beras pulut direbus bukan dikukus atau ditanak. Ini yang aku tdk habis pikir kok ada juga orang kampong yang tdk bisa masak ketan.
Oh ya Oma juga membawa Desy anak tek Ibet yang kebetulan libur sekolah karena kls III UN. Baru saja oma sampai oma langsung bilang kalau hanya 2 hari di pekanbaru. Senin sudah harus balik ke Bukittinggi karena Desy sekolah. Ini agak mengecewakan kami. Biasanya Oma minimal tinggal dulu sebulan atau paling cepat 10 hari….ah…..gara-gara Desy.
Sebenarnya kasian juga Oma tinggal sendiri karena inyik masih di kampong (lb basung). Oma orangnya penakut kalau ditinggal sendiri dan orangnya sangat psikis. Desy dan kakaknyalah yang bergantian menemani. Sayang sekali kami tidak banyak saudara. Kenapa inyik harus merawat inak, karena inyik anak satu-satunya dari inak (panggilan untuk nenek ku). Begitu juga dengan Oma yang anak tunggal dari ayah dan ibunya, tapi masih punya saudara se ayah dan saudara tiri.
Saat seperti inilah kami baru merasakan betapa beruntungnya kalau kita punya banyak saudara, bisa saling menolong dan menemani.
Tiba-tiba Oma kena diare. Awalnya dianggap diare biasa.Minggu siang kami sempatkan berkunjung ke rumah tante Ruzi, karena tante Ruzi habis operasi kista. Oma sudah mulai lemas. Aku menyediakan oralit dan obat diare. Sampai habis 1 papan , diare Oma tak kunjung berhenti. Akhirnya Oma harus dibawa ke dokter, disuntik dan diberi obat diare yang (kata dokter) lebih ampuh. Tapi sampai saat aku menulis ini Oma sudah kehabisan stok baju dan pakaian dalam. Terpaksa mencari diapers dan aku juga harus mencuci dan mengepel malam ini. Mudah-mudahan diare Oma berhenti dan cepat sembuh.
Aku dan Oma mengingat lagi kata-kata Oma yang memastikan akan 2 hari saja di Pekanbaru, Allah maha tahu, waktu aku merengek supaya Oma lebih lama lagi disini Allah mengabulkan. Oma tidak jadi pulang ke Bukittinggi tapi ;ebih lama dan dalam keadaan sakit.
Ya Allah ampunkan kami,…berikan kesempatan ku merawat mama dengan tulus sebagaimana dia merawat hamba waktu kecil dulu. Dan sisakan waktu bagi mama yang akan hamba gunakan untuk berbakti, redha karena Mu ya Rabb